Oleh : Novericko Ginger Budiono(B04080020)
Gedung C3 Kamar 288
Asrama Putra TPB-IPB
Dalam menjalani keseharian hidupnya mahasiswa memerlukan skill, baik hard skill maupun soft skill. Dennis E. Coates, Ph.D. : “hard skills (HS)” are technical or administrative procedures related to an organization’s core business. Examples include machine operation, computer protocols, safety standards, financial procedures and sales administration. Hard skill lebih mudah diidentifikasi karena memiliki kuantitas, serta mudah dilatih. Sedang “soft skills (SS)” (also called “people skills”) are typically hard to observe, quantify and measure. People skills are needed for everyday life as much as they’re needed for work. They have to do with how people relate to each other: communicating, listening, engaging in dialogue, giving feedback, cooperating as a team member, solving problems, contributing in meetings and resolving conflict (www.2020insight.net).
Dunia pendidikan mengungkap bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill. Dari pengertian dan penelitian tersebut menunjukkan soft skill menjadi lebih diperlukan mahasiswa, apalagi berada dalam proses pencarian jati diri dan menjadi mandiri. Dengan SS mahasiswa dapat belajar bagaimana belajar dan bekerja dengan baik.
Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Asrama Tingkat Persiapan Bersama IPB (Asrama TPB-IPB) melaksanakan Program Pembinaan Akademik dan Multi Budaya (PPAMB) yang berusaha menghadirkan proses pendidikan soft skil mahasiswa, program ini meliputi program : 1) Ko-Kurikuler, contohnya Responsi; 2) Ekstrakurikuler, contoh : Lembaga Kemahasiswaan (BEM dan DPM), dan UKM; 3) Sosial Budaya, contoh : Bentang Budaya; 4) Kerohanian, contoh : Ngaji Lorong, serta 5) Kewirausahaan, contoh : Koperasi Mahasiswa (www.student.ipb.ac.id). Asrama TPB-IPB yang berkapasitas lebih dari 3000 mahasiswa dan terdiri dari 7 gedung ini dikelola oleh sebuah badan bernama Badan Pengelola Asrama (BPA) yang dikepalai oleh bapak Dr. Bonny Soekarno. Program yang ada bersifat rutin dan insidental. Program yang telah berlangsung pada tahun akademik 2008/2009 hingga awal Desember antara lain Responsi, Bentang Budaya, Food Fair, Penanaman dan Perawatan Pohon, Fun Day, dll. Serta program rutin Ngaji Lorong (Ngalong) seminggu sekali dan Apel Pagi rutin dua mingguan.
Disamping kegiatan-kegiatan tersebut, kehidupan di asrama sendiri mendukung mahasiswa untuk melatih soft skill. Setiap kamar (4 orang) rata-rata berasal dari tempat dan jurusan yang berbeda-beda, seperti kamar penulis (C3-288), saya berasal dari Depok (Jabar) dengan mayor FKH, ketiga teman saya masing-masing berasal dari Baso (Sumbar) dengan mayor ARL, Ciamis (Jabar) dengan mayor SVK, serta Tuban (Jatim) dengan mayor Matematika. Masing-masing memiliki budaya dan bahasanya sendiri, sehingga di kamar ada proses pembelajaran sosialisasi dan komunikasi. Apalagi ada mahasiswa IPB yang berasal dari negeri asing, Malaysia contohnya. Ada proses problem solving yang dilakukan bersama antar individu. Sebagai contohnya adalah masalah kebersihan kamar, air minum, dll. Setiap gedung dipimpin seorang Lurah dan masing-masing gedung terdapat 10 lorong yang dipimpin RT yang mengurusi permasalahan antar kamar. Jadi di asrama pun memiliki organisasi yang cukup kompleks yang juga dapat meningkatkan SS mahasiswa.
Fasilitas asrama layaknya rumah, tiap lorong terdapat kamar mandi, dispenser, dan setrika. Sedangkan masing-masing kamar terdapat 4 kasur, 2 ranjang bertingkat, 4 meja belajar, lampu, 2 lampu belajar, galon, dan 4 lemari. Lepas dari itu, interaksi antar individu penghuni asrama yang intensif setiap hari menjadi nilai tambah tersendiri, yakni menjadi hubungan pertemanan/persahabatan yang erat. Jaringan yang telah dibentuk tersebut menjadi modal mahasiswa untuk melanjutkan kehidupan di luar asrama. Setelah diasramakan selama setahun, mahasiswa telah belajar mengenai hidup dan cara menyiasatinya (soft skill). Selain itu, asrama adalah salah satu cara mencegah terjadinya kerusuhan antar mahasiswa yang terjadi antar fakultas dalam satu perguruan tinggi. Karena dengan asrama, mahasiswa belajar menghargai orang lain dan setiap orang memang berbeda baik dari segi watak, kebiasaan dan aktivitasnaya.
Asrama TPB-IPB pun terus berusaha menjalankan perannya sebagai sarana pengembangan soft skill mahasiswa IPB dengan selalu berusaha memperbaiki kekurangan yang ada. Semoga dengan ini IPB dapat menjadi Perguruan Tinggi Riset Bertaraf Internasional. Semoga.
